Dewasa ini, tagline fisheries sustainability semakin populer di kalangan industri perikanan. Perhatian konsumen terhadap label keberlanjutan dalam produk perikanan dan akuakultur (Fisheries and Aquaculture Product/FAP) telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, dan industri telah beradaptasi dengan minat yang berkembang ini dengan mengadopsi ekolabel perikanan. Masalah utama yang mempengaruhi keberlanjutan perikanan laut termasuk penangkapan ikan berlebihan (overfishing), penangkapan ikan ilegal, kerusakan habitat, tangkapan sampingan, dan pengelolaan diharapkan bisa dikelola dengan bantuan konsep sustainability tersebut.
Konsep tersebut cukup sesuai apabila diterapkan di Indonesia mengingat angka konsumsi ikan di Indonesia sebesar 55,37 kilogram (kg) per kapita pada 2021. Jumlah itu meningkat 1,48% dibandingkan pada 2020 yang sebesar 54,56 kg/kapita (KKP, 2022). Dengan meningkatnya konsumsi seafood tersebut, pasti akan dibarengi dengan penyediaan bahan baku atau supply ikan dari para produsen. Tentu dengan mengingat bahwa ikan adalah sumber daya yang bersifat tidak tak terbatas, maka perlu adanya pengelolaan yang berkelanjutan untuk memastikan ketersediaan stok ikan untuk masa-masa mendatang. Konsep ecolabel ini salah satu alternatif yang menyeimbangkan antara pasar dengan keberlanjutan stok dan dampak terhadap ekosistem di alam.Prinsip-prinsip keberlanjutan dalam fisheries ecolabel certification ini sejalan dengan prinsip-prinsip dalam EAFM yaitu human wellbeing, ecological wellbeing, dan good governance.
Salah satu contoh upaya yang sejalan dengan hal tersebut adalah praktik yang dilakukan oleh PT Jaring Dagang Aruna (selanjutnya disebut Aruna), dimana perusahaan mencoba mengadopsi konsep fisheries ecolabel dengan standar Marine Stewardship Council (MSC) pada salah satu rantai supply-nya yaitu rajungan yang ditangkap menggunakan bubu di daerah Perairan Balikpapan, Kalimantan Timur. Dalam prosesnya, Aruna menggandeng Seafood Savers yang diinisiasi Yayasan WWF Indonesia untuk mendampingi proses yang dilakukan. Dimana secara simbolik, peresmian Aruna menjadi anggota Seafood Savers dilaksanakan pada tanggal 7 Agustus 2023 di Head Quarter Yayasan WWF Indonesia.
Perkembangan ecolabel di Indonesia saat ini cukup baik mengingat ada setidaknya 3 perikanan yang telah tersertifikasi MSC untuk komoditas perikanan tuna selain beberapa komoditas lain yang sedang dalam proses perbaikan perikanan melalui skema Fisheries Improvement Program (FIP), misalnya rajungan, kepiting bakau, udang, ikan karang, dan gurita. Kedepan diharapkan sertifikasi semacam ini semakin sinergis dengan para pemangku kepentingan di Indonesia untuk memastikan produk seafood masih bisa dinikmati oleh anak cucu kita. (Admin-AM)/Kredit foto: Tiara/@WWF-Indonesia