Artikel

Gencarkan Upaya Praktik Perikanan Berkelanjutan Lewat Simposium Tuna Nasional

    Dibaca 2102 kali berita

Penyelenggaraan Simposium Tuna Nasional ini merupakan salah satu bentuk usaha untuk mendukung penerapan  Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di Indonesia. Bertajuk “Pengelolaan Perikanan Tuna Berkelanjutan di Indonesia”, acara ini berhasil menghimpun 144 pemakalah yang dibagai ke dalam enam kelas untuk mempresentasikan makalahnya. Enam kelas tersebut mewakili masalah-masalah utama dalam perikanan tuna, yaitu status stok untuk perikanan tuna, harvest control rule, perkembangan teknologi dan armada tangkap perikanan tuna yang berkelanjutan, pasar perikanan tuna yang berkelanjutan dan berkeadilan, kebijakan dan pengelolaan tuna yang berkelanjutan, serta persyaratan dan resolusi perikanan Indonesia.

Direktur Sumber Daya Ikan – Kementerian Kelautan dan Perikanan (Dir. SDI – KKP) Toni Ruchimat yang membuka simposium ini mengatakan bahwa pembenahan aspek pengelolaan, aspek sumber daya, aspek teknologi, hingga aspek data dan informasi masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu segera dibereskan agar tidak berimbas kepada sediaan sumber daya tuna di alam dan kelangsungan bisnis. Selain itu, ada enam pembicara utama (keynote speakers) yang membawakan presentasi seputar pengelolaan perikanan tuna berkelanjutan. Di antaranya adalah Luky Adrianto (Ketua Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan - IPB), Purwanto (Peneliti, Indonesia Marine and Climate Support– IMACS), Abdul Ghofar (Ketua Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan), dan Wawan Ridwan (Direktur Program Coral Triangle - WWF-Indonesia) sebagai moderator. Mereka adalah orang-orang penting yang terlibat dalam inisiasi pengembangan konsep EAFM di Indonesia.

Ini adalah pertama kalinya sebuah simposium diadakan dengan mengusung tema perbaikan pengelolaan perikanan menuju praktik yang berkelanjutan ini. Acara yang berlangsung selama 10 – 11 Desember 2014 kemarin diikuti oleh hampir 250 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, hingga dinas Kementerian Kelautan dan Perikanan dan bertujuan untuk menghimpun informasi seluas-luasnya dari hasil studi maupun temuan lapangan para akademisi, peneliti, dan para pelaku industri mengenai kondisi perikanan tuna Indonesia. Hasil-hasil studi dan temuan tersebut menunjukkan kebutuhan untuk segera melakukan perbaikan perikanan tuna yang mengarah kepada praktik keberlanjutan dan selanjutnya dirumuskan sebagai rekomendasi yang berguna bagi para pembuat kebijakan di Indonesia yang sejalan dengan EAFM.

Kumpulan Penelitian Perikanan Tangkap
Status Stok Sumber Daya Ikan
KEPMEN 50/2017
O M U
Overfishing Moderate Underfishing
WPP-571
Cumi-cumi M
Ikan Demersal U
Ikan Karang U
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil M
Kepiting O
Lobster O
Rajungan M
Udang Penaeid O
WPP-572
Cumi-cumi U
Ikan Demersal M
Ikan Karang U
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil M
Kepiting U
Lobster M
Rajungan U
Udang Penaeid O
WPP-573
Cumi-cumi O
Ikan Demersal U
Ikan Karang O
Ikan Pelagis Besar O
Ikan Pelagis Kecil O
Kepiting U
Lobster M
Rajungan M
Udang Penaeid O
WPP-711
Cumi-cumi O
Ikan Demersal M
Ikan Karang O
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil O
Kepiting O
Lobster M
Rajungan O
Udang Penaeid M
WPP-712
Cumi-cumi O
Ikan Demersal M
Ikan Karang O
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil U
Kepiting M
Lobster O
Rajungan M
Udang Penaeid O
WPP-713
Cumi-cumi O
Ikan Demersal M
Ikan Karang O
Ikan Pelagis Besar O
Ikan Pelagis Kecil O
Kepiting M
Lobster O
Rajungan M
Udang Penaeid M
WPP-714
Cumi-cumi O
Ikan Demersal M
Ikan Karang M
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil U
Kepiting O
Lobster O
Rajungan M
Udang Penaeid U
WPP-715
Cumi-cumi O
Ikan Demersal U
Ikan Karang U
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil U
Kepiting O
Lobster O
Rajungan M
Udang Penaeid M
WPP-716
Cumi-cumi O
Ikan Demersal U
Ikan Karang O
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil U
Kepiting O
Lobster M
Rajungan M
Udang Penaeid M
WPP-717
Cumi-cumi O
Ikan Demersal U
Ikan Karang M
Ikan Pelagis Besar O
Ikan Pelagis Kecil M
Kepiting M
Lobster O
Rajungan O
Udang Penaeid U
WPP-718
Cumi-cumi O
Ikan Demersal M
Ikan Karang O
Ikan Pelagis Besar M
Ikan Pelagis Kecil M
Kepiting M
Lobster M
Rajungan M
Udang Penaeid M
Ukuran Matang Gonad Beberapa Jenis Ikan
Ikan Panjang_lm
Tuna Sirip Kuning 137,50 (FL)
Tuna Sirip Biru 140 cm
Tuna Mata Besar Jantan : 140,5-151,9  
Betina : 133,5-137,9(FL)
Tuna Albakor 107.5 cm
Tongkol Krai 29-30 cm
Tongkol Komo 40-65 cm
Tongkol 35 cm
Teripang 16 cm,184 gr
Teri Jengki 6 cm
Tenggiri 40-45 cm
Tembang 11,95 FL
Slanget Jantan : 13,9-14,6
Betina : 13,1-13,8 (TL)
Selar Kuning J: 13,9-14,2
B: 13,5-13,8 (TL)
Selar Bentong 20,80 FL
Rajungan 7-9 cm (CL)
Peperek 13.0 SL
Pari Manta 380-460 cm
Pari M:59.9-69.1 /F:59.9-69.1 cm
Mata Tujuh M:3.51-4.0/ F:4.01-4.5 cm
Mahi-mahi 65 cm
Lencam 45.3 cm
Lemuru 15.0 cm
Betina: 9,9 (TL)
Layaran 156-250 cm
Layang Deles Jantan : 19,6-20,1
Betina : 19,8-20,3
Layang 16,21 FL
Kuwe 42.0 SL
Kurisi F:15-18 cm
Kurau F:28.5-29 cm/ M:22.5-24.3 cm
Kuniran F:13.6-14.3/ M:14.4-15.1 cm
Kerapu 39 cm
Kerang Dara M : 2.720-2.950 cm/ F:2.230-3.050 cm
Kepiting Bakau 9-10 up CL/301-400 gr
Kembung 16,89 FL
Kambing kambing 14.0 TL
Kakap Putih 29-60 cm
Kakap Merah 42.9 FL
Gerotgerot 40.0 cm
Cakalang 40-41.9 cm
Butana 18.0 FL
Belanak 24-26 cm
Bawal Putih 18 cm
Bawal Hitam 22-24 cm
Baronang 24 cm
Barakuda F:66.0 FL/ M:60.0 FL
Banyar 18,03 FL
Supported by
WWF